ORANG WANING: ATAU KOPI ATAU EMAS

Benny Obon

Sang pemimpun berpakaian necis bersimbol mengkilap di dada menutup mata hati, mengabaikan suara rakyat, memaksa rakyat mengikutinya. Saat banyak rakyat berteriak melawannya, sang pemimpin sibuk berburu surga dalam saku/kantong para investor.
Hari itu 1 Juli 2009, udara dingin menyelimuti kota Ruteng. Angin sepoi-sepoi pagi berhembus menembusi dinding-dinding rumah dan menyerang setiap orang dalam rumah. Kecupannya terasa di sekujur tubuh hingga ke sum-sum tulang belakang sontak membangunkan setiap insan dalam rumah.
Lonceng-lonceng biara berdentang kuat memecah kesunyian diiringi dekutan burung-burung merpati dan cercitan burung-burung Gereja. Dentangan lonceng-lonceng itu makin lama makin lemah hingga tak terdengar. Kami bergegas menyambut hari itu dengan segala rasa syukur dan pujian.
Matahari terus beranjak dan memberikan senyum indah dalam bersitan sinar-sinarnya yang kemerah-merahan. Ia menyambut kami dengan senyum persahabatan. Kami menyadari bahwa ia tidak pernah tahu kalau kami sedang menantikannya untuk mengusir udara dingin yang menyiksa kami sepanjang malam. Tetapi, kami tahu bahwa ia tahu kami menantikan dia untuk kembali menulis sejarah baru dalam diari hidup kami pada hari itu.
Bumi terus bergeser tak terasa hari sudah menunjukkan pukul 08.00. Sementara udara dingin terus memeluk kami erat-erat. Kami merelakan diri dalam buaian pelukannya karena kami tahu bahwa ia ingin melepaskan rasa rindu bersama kami. Betapa tidak sudah beberapa tahun kami meninggalkan Manggarai dan kini sudah kembali. Kami pun disambut dengan pelukan yang hangat dengan dinginnya udara kota Ruteng.
Waktu terus berjalan dan perlahan-lahan kehangatan raja siang mulai terasa dan melepaskan kami dari pelukan udara dingin. Kami pun mulai berkumpul di komunitas SVD Ruteng. Di sana kami membuat pertemuan singkat sebagai pengantar sebelum kami merajut kisah bersama umat paroki Waning. Mengingat wilayah paroki Waning merupakan daerah yang baru bagi kami, maka kami perlu dibekali untuk mengenal Waning dan karakter-karakternya.
Paroki Waning merupakan tempat yang menjadi tujuan atau sasaran kunjungan para frater SVD Ruteng kali ini. Bukanlah suatu kebetulan paroki Waning dipilih menjadi tempat kunjungan. Namun, ini merupakan suatu karya Tuhan bahwa umat Paroki Waning sesungguhnya memerlukan suatu pewartaan yang segar tentang dunia kehidupan mereka. Sekadar menengok ke belakang, paroki Waning memperoleh poling terbanyak dalam penentuan tempat tujuan kunjungan para frater pada tahun ini mengalahkan paroki-paroki lainnya. Ini yang membuat kami berkunjung ke paroki Waning.
Lalu ada apa sebenarnya dengan paroki Waning? Apakah ada sesuatu yang menarik di paroki Waning? Apakah umat paroki Waning sudah menjauh dari Gereja sehingga perlu digiring kembali dengan pewartaan-pewartaan yang baru dan segar? Bukankah paroki Waning mempunyai medan yang menantang dan haruskah para frater memilih tempat yang menantang seperti itu? Inilah sejumlah pertanyaan refleksi yang membuat kami harus mempersiapkan diri dengan baik sebelum pergi ke paroki Waning. Dalam usaha mempersiapkan diri tersebutlah, maka kami berkumpul di Soverdi Ruteng.
Pertemuan tersebut dipimpin oleh P. Simon Suban, SVD (ketua JPIC SVD Ruteng), P. Alex Jebadu, SVD (pemerhati masalah lingkungan dan penasihat Forcam), bapak .... (anggota DPRD Manggarai 2009-2014). Tema pembicaraan dalam pertemuan tersebut adalah tambang di Manggarai khususnya di paroki Waning. Pater Simon sendiri merupakan seorang yang mengenal baik tentang tambang dan seluk-beluknya. Ia telah memperlajari dengan baik tentang tambang yang dibuka di berbagai daerah di Indonesia serta mengenal baik seluk-beluknya. Karenanya ia berjuang keras menyadarkan masyarakat Manggarai umumnya dan Waning khususnya untuk menolak tambang. Sebagai ketua JPIC SVD Ruteng, setiap hari ia terjun ke masyarakat untuk memberikan penjelasan tentang tambang dan akibat-akibatnya bagi masyarakat.
Hadir dalam pertemuan tersebut juga bapak Drs. ..... Ia merupakan seorang anggota dewan yang benar-benar tahu akan tugasnya sebagai wakil rakyat. Ia menyadari bahwa ia dipilih oleh rakyat untuk duduk dalam kursi dewan, karenanya mesti membela rakyat. Ia begitu getol menolak segala kebijakan pemerintah daerah yang mengizinkan para investor untuk menambang di Manggarai. Beliau menjelaskan bahwa kehadiran perusahaan tambang di Manggarai tidak memberi nilai tambah yang berarti bagi kas daerah, malah tambang itu sendiri menyengsarakan rakyat.
Pater Alex yang menjadi pembimbing para frater memberikan penjelasan tentang unsur teologis keharmonisan dalam alam ciptaan. Bahwa Tuhan menciptakan alam beserta isinya dan diberikan sepenuhnya untuk manusia. Oleh karena itu manusia mesti menjaga dan memelihara keutuhannya. Inilah tanggung jawab manusia. Manusia tidak berhak merusak alam ciptaan.
Keberadaan manusia di dunia harus dilihat sebagai satu-kesatuan yang tidak terpecah-pecah. Ia utuh dan dalam keutuhan tersebut relasi dalam alam semesta akan harmonis. Manusia tidak dapat mengatakan ‘saya manusia, karenanya saya berhak mengekploitasi alam sekehendak saya’. Oleh karena itu manusia harus membangun relasi yang baik dengan alam semesta dengan cara melestarikannya.
Pertemuan tersebut berlangsung selama satu jam. Dalam pertemuan tersebut juga pater Simon membagikan berkas daftar lokasi tambang yang terdapat di paroki waning. Lokasi-lokasi tambang tersebut tersebar di sejumlah kampung di paroki waning dan terdapat hampir di semua kampung/stasi paroki Waning. Setelah diteliti ternyata paroki Waning sendiri akan siap hilang dari ingatan publik dan dari sejarah Manggarai jika tambang jadi dilaksanakan. Lalu kami melanjutkan perjalanan dan disambut dengan meriah oleh umat paroki Waning. Dari penyambutan tersebut dapat diketahui bahwa keinginan mereka untuk mendengarkan penjelasan tentang tambang begitu besar.
Selanjutnya kami dibagi ke beberapa stasi. Di sanalah kami berkumpul bersama untuk membicarakan satu tema hangat yang terus menghantui pikiran mereka. Mereka mengakui bahwa mereka hanya mendengar bahwa tambang itu baik karena akan mendapatkan uang. Namun, setelah mendengar penjelasan dan menonton video tentang dampak tambang di Reo dan beberapa daerah lainnya yang dikeluarkan oleh JPIC OFM, mereka baru menyadari bahwa tambang membawa akibat yang buruk bagi masyarakat. Mereka baru menyadari bahwa selama ini mereka tenggelam dalam janji-janji muluk yang ternyata akan merugikan mreka sendiri.
Selain itu mereka tidak pernah tahu bahwa lokasi tambang di Waning sangat luas. mereka hanya mengtahui beberapa titik yang pernah diberi tanda oleh orang-orang Jepang. Bayangkan saja luas areal tambang di paroki Waning sendiri ........ Itu berarti meliputi seluruh paroki Waning. Dengan demikian kalau tambang tetap dilaksanakan maka paroki waning pun akan tercabut. Kalau tambang tetap dilaksanakan di Paroki Waning maka berbagai efek sosial akan muncul.
Menyadari dampaknya yang begitu besar, masyarakat Waning pun bersatu menolaknya. Penolakan mereka tidak hanya sekadar janji tetapi mereka menyatakannya dengan memberikan tanda tangan sebagai bukti bahwa mereka menolak tambang di Waning khususnya dan di Manggarai umumnya. (bersambung).


ORANG WANING: ATAU KOPI ATAU EMAS (2)
Benny Obon

Memang dalam masyarakat kami menemukan pendapat yang pro dan kontra terhadap tambang. Umumnya mereka yang sudah pernah mendapatkan uang dari investor mendukung tambang menerimanya, tetapi mereka sendiri tidak pernah tahu dampak tambang. Mereka hanya tergiur dengan uang. Bahkan masyarakat tidak canggung-canggung menyewakan rumah mereka dengan harga yang tinggi yaitu belasan juta per bulan. Itu hanya untuk sewa rumah, belum lagi pemasaknya. Seandainya sang tuan rumah menyewakan rumahnya dan sekaligus menjadi pemasak untuk pekerja tambang, maka ia bisa mendapatkan dua puluhan juta sebulan dari gajinya sebagai pemasak dan biaya sewa rumah. Ini yang membuat masyarakat Waning tergiur untuk menerima tambang. Namun, mereka hanya terdiri dari beberapa orang.
Umumnya masyarakat Waning menolak tambang. Paling tidak ada beberapa akibat tambang yang langsung dirasakan oleh masyarakat generasi sekarang. Pertama, masyarakat Waning akan kehilangan tanahmya. Tanah yang selama ini menjadi tempat mereka berkebun akan hilang karena akan dibongkar untuk mendapatkan emas. Mereka tidak pernah tahu entah berapa dalamnya para investor akan menggali tanah untuk mendapatkan emas. Mereka tidak pernah tahu entah pada kedalaman berapa emas terkandung dalam tanah Mereka. Mereka tidak pernah tahu emas berada pada kedalaman berapa dari rumah tempat mereka berlindung.
Kedua, masyarakat Waning akan kehilangan tanaman pangan dan komoditi. Selama ini masyarakat Waning hidup dari tanaman pangan dan komoditi yang adalah hasil tanah mereka sendiri. Mereka tentu bangga dengan tanaman kopi yang tak pernah berhenti menghasilkan buah. Mereka tentu selalu merasa puas dan bangga dengan bulir-bulir kopi yang memerah laksana suatu pemandangan yang indah di kebun-kebun. Maereka selalu bangga melihat pohon-pohon cengkeh berbuah dengan lebat. Mereka selalu mempunyai cerita bahwa mereka kewalahan memetik hasil cengkeh karena buahnya terlalu banyak. Begitu juga dengan tanaman-tanaman perkebunan lainnya.
Semuanya itu merupakan ‘buah-buah emas’ yang secara tidak langsung mereka nikmati. Mereka tidak perlu menggali emas yang entah berada pada kedalaman berapa dari tempat mereka berada untuk menghasilkan uang. Mereka mempunyai emas dan berlian yang mahal yang tidak akan pernah habis digali dalam bulir-bulir kopi, dalam pohon-pohon cengkeh dan tanaman-tanaman lainnya. Ini semua menjadi kebanggaan mereka dan menjadi sandaran hidup mereka. Namun, semuanya itu akan hilang lenyap jika mereka memberikan tanahnya untuk ditambang. Oleh karena itu kita patut bertanya masyarakat Waning pilih kopi, cengkeh, kakao atau emas?
Ketiga, Masyarakat Waning akan menjadi orang asing di daerah sendiri. Dengan luas arel tambang yang mencapai ..... hektar otomatis mereka akan dikeluarkan dari tempat tinggalnya. Mereka akan diungsikan secara paksa dan secara tidak manusiwi dari tempat tinggalnya. Mereka tidak tahu entah ke mana mereka akan berpindah. Mereka tidak tahu entah bagaimana cara mereka membangun suatu kehidupan baru di tempat yang baru. Mereka tidak tahu entahkan akan ada orang yang bersedia memberikan tempat tinggal kepada mereka. Dan, mereka pun akan menjadi orang asing di daerah sendiri. Maka. Kelak pada suatu waktu anak-anak cucu mereka akan menceritakan secara turun-temurun dan akan terpancang sebuah tugu di Waning bertuliskan ‘Di sini pernah hidup orang Waning’.
Kelima, kebijakan tambang menunjukkan partisipai masyarakat Waning dalam pengambilan kebijakan sudah teralienasi. Masyarakat Waning teralienasi dari partisipasinya dalam pengambilan kebijakan pertambangan. Rencana dan program pertambangan dirancang oleh pemerintah yang tidak tebuka bagi publik. Hal ini bertentangan dengan budaya politik demokratis.
Keenam, rakyat bukan lagi sebagai subjek pembangunan. Dalam etika politik modern pemerintah hanyalah sebagai fasilitator pembangunan. Pemerintah mesti membantu, mendorong dan memotivasi rakyat untuk menggunakan segala kemampuan dan sumber daya yang ada untuk kesejahteraan masyarakat itu sendiri. Rencana tambang di Waning tersebut menyalahi prinsip tersebut.
Ketujuah, masyarakat Waning akan kehilangan tanah bagi generasi selanjutnya. Setiap komunitas masyarakat mempunyai kesadaran akan tanggung jawab antargenerasi. Masyarakat Waning adalah masyarakat agraris. Mereka akan melanggar prinsip tersebut jika mereka menjual tanahnya untuk keuntungan ekonomis. Mereka akan kehilangan tanah bagi anak-anak cucu.
Kehadiran perusahan tambang di Waning justru akan merugikan masyarakat Waning. Masalah tambang pun menjadi suatu masalah sosial. Di tengah dinamika politik lokal yang kian hari kian tidak menentu, berbagai problem yang berefek massa/sosial bermunculan. Problem-problem tersebut mengundang perhatian banyak pihak serentak melahirkan sikap untuk menolaknya. Masalah tambang di Manggarai Barat (baca: Waning) mengancam eksistensi masyarakat karena itu menimbulkan sikap penolakan dari masyarakat.
Ditengarai dapat memajukan pembangunan dalam masyarakat, pemerintah secara sepihak dan secara diam-diam mengundang para investor untuk membangun sejarah kelam di Manggarai Barat dengan tambang. Dengan iming-iming akan mendapatkan sebagian dari hasil tambang tersebut pemerintah berusaha menyingkirkan masyarakat dari tempat tinggalnya.
Masyarakat yang adalah subjek pembangunan dan yang seharusnya menjadi sasaran pembangunan disingkirkan. Masyarakat justru dilihat sebagai penghalang dan pengganggu program pembangunan karena itu pemerintah berusaha menghapus masyarakat sebagai subjek pembangunan. Kalau pemerintah mengabaikan masyarakat sebagai subjek pembangunan, pertanyaannya: pembangunan tersebut untuk siapa? Bukankah pembangunan tersebut untuk rakyat, bukankah pemerintah dipilih oleh rakyat dan bukankah pemerintah sebagai representasi rakyat? Inilah pertanyaan mendasar yang perlu direfleksikan oleh pemerintah sebelum mengambil suatu kebijakan.
Pembangunan harus berbasis masyarakat. Artinya kebutuhan masyarakat mesti diutamakan, bukan kebutuhan pemimpin/pemerintah. Pembangunan tersebut juga harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kalau masyarakat tidak membutuhkan kehadiran perusahaan tambang, pemerintah mesti mendengarnya. Bila kita melihat dan mengalami kehidupan mayarakat Waning, kebutuhan pembangunan yang mendesak bagi mereka adalah jalan.
Bila dibandingkan dengan daerah lain, kita dapat mengatakan Waning secara keseluruhan masih terbelakang (hipotese kurang benar dan perlu dibuktikan kebenarannya). Indikator ini tentu diukur dari segi baik tidaknya jalan raya. Bila kita berjalan-jalan ke Waning kita akan melintasi jalan yang sudah rusak dalam kategori yang parah. Di sana sini terdapat lobang yang cukup dalam dan ini membahayakan bagi setiap pengendara. Dan, orang Waning sudah akrab dengan kondisi jalan tersebut. Namun, bagi kami (beberapa orang) jalan tersebut merupakan yang paling parah yang pernah kami alami (berharap tidak akan pernah mengalaminya lagi). Dengan Menumpang sebuah Truk yang ramah dengan jalan berlobang, maka teriakan dan komentar-komentar bernada satire menjadi musik dalam perjalanan kami. Sungguh memprihatinkan. Dan, sesungguhnya masyarakat Waning hanya membutuhkan perbaikan jalan bukan tambang. (bersambung).

ORANG WANING: ATAU KOPI ATAU EMAS (3/selesai)
Benny Obon

1 komentar: